Minggu, 12 Januari 2014

Perjuanganku 2

Perjuanganku 2

Masa Kecilku

Aku lahir di Pulo Aren. sebuah kampung di Kecamatan Karang Bahagia. kampung yang damai dan masih kuat budaya pedesaannya. masa kecilku, kuhabiskan di kampung ini. dari bermain petak umpet sampai berenang di kali. masa kecil yang penuh dengan bermain dan petualangan keliling kampung. berburu burung, memancing di sawah, mencari ikatn, menggembala kambing, menaiki kerbau, dan panen raya. malamnya diisi dengan mengaji al-Qur'an dan bermain dengan teman sejawat.

Aku anak yang kurang gesit. kurang aktif dalam segala hal. dan aku juga tidak pandai bergaul dan lebih suka mengurung diri. berfantasi dengan khayalan yang tinggi, hingga ketika aku menonton film satria baja hitam, aku ingin seperti itu, ketika aku melihat Ade Ray bertubuh penuh otot, aku ingin seperti itu, menonton film-film super Hero menjadikan diriku ingin seperti itu, sehebat yang kutonton. Jiwa muda yang masih suka bergonta-ganti cita-cita. Seperti anak yang masih belum punya pendirian yang mantap, aku sering berpikir, untuk masa depan, waktu SD aku sudah mempertanyakan, bagaimanakah wajahku nanti ketika aku SMP, ketika SMP aku beranya lagi bagaimanakah wajahku nanti ketika SMA, dan seterusnya. Terkadang otakku sering memikirkan masalah yang besar-besar.

Ketika SMP, aku sering sakit-sakitan, bila pulang dari sekolah dengan berjalan kaki sekitar satu kilometer, kepalaku sering pusing. badanku lemah, padahal aku suka angkat benda-benda berat untuk memperkokoh otot-otot tubuhku. tapi kemalasan dan kelemahan yang lebih dominan menjadikan aku tak berdaya. Periode itu, adalah periode yang paling tidak bersemangat dalam berkarya. Tapi bakatku mulai terlihat dalam bidang seni. aku belajar melukis dan mengukir kayu. untuk minat baca buku, masih sangat kurang.

Lulus SMP pamanku mengajakku untuk masuk ke MA Al-Hidayah. menemani kemenakanku yang masuk MTs. aku setuju dan akhirnya inilah babak baruku mengenal Islam dan Pesantren. Seperti terkena lecut hati atau seakan sadar dari tidur panjang, aku terperanjat akan kebodohanku selama ini. betapa banyak ilmu agamaku yang belum kutahu dan kupelajari. semakin hari ketika dipesantren penuh dengan kegiatan keilmuan yang sangat mengasyikkan, akhirnya semangatku seakan membara. aku menjadi santri yang sangat ingin tahu segala hal. ingin mengejar ketertinggalan dan ingin menjadi yang terdepan. semangat belajar itu pun semakin meningkat ketika kelas 2 MA, aku membeli buku-buku agama yang sangat bergelora, aku membaca buku tentang tasawuf, biografi ulama-ulama, hingga tulisan para pembaharu islam, minat bacaku sungguh menggila, hingga aku bercita-cita membuat perpustakaan terbesar di Asia Tenggara. setiap buku yang aku temui dan menarik segera aku baca dengan rakus sekali. apalagi ketika aku membaca bahwa orang dulu menulis sampai berjilid-jilid. aku pun ingin menjadi seperti mereka. Akhirnya kumulai dengan menyalin kitab-kitab tipis yang sedang dipelajari di pesantren. dan ternyata lelahnya luar biasa.

Cacian dan hinaan dari orang-orang sekitarku ketika pesantren ternyata menjadi pemompa semangat yang luar biasa. seakan ujian tekanan jiwa yang cukup berat menjadikan semangat yang bergelora untuk merubah keadaanku. Saat itu cita-citaku sudah terbentuk dengan agung. dan aku telah memiliki konsepsi yang sudah kuramu dari berbagai pemikiran orang-orang besar Islam. dan aku telah mempelajari sejarah yang panjang, Sejarah dunia. wawasanku bertambah terbuka dikala aku masuk kuliah dan bergaul dengan mahasiswa. tapi akhirnya ketika aku masuk pabrik untuk bekerja di suatu perusahaan di PT Sanyo Indonesia di EJIP Lippo Cikarang, kuliahku berantakan. entahlah, ketika itu terbentur biaya dan ekonomi keluarga. akhirnya, aku berpikiran, aku bisa menjadi orang pintar dengan banyak membaca walaupun aku tak punya gelar akademi. dan mungkin orang bodoh akan menganggapku bodoh karena tak mempunyai gelar. dan aku pun berkeinginan punya kedekatan dengan masyarakat lapis bawah yang notabene orang miskin. aku merasakan penderitaan mereka dengan menyamakan tingkat pendidikan yang masih rendah. tapi, ketika ada uang berlebih dan aku memang tidak bisa mengatur uang untuk ditabung akhirnya perbulan aku membeli buku-buku yang beragam. untuk memenuhi rasa ingin tahuku. walau aku bukan sarjana tapi aku ingin punya pengetahuan luas seluas samudera. pikirku waktu itu. dan akhirnya buku-bukuku pun mulai menumpuk dan aku kerepotan membaca.

setelah dua tahun aku bekerja di pabrik yang luar biasa lelahnya dan luar biasa disiplinnya. pabrik orang jepang memang sangat disiplin. bekerja hampir seperti robot, walau dalam pelatihannya dikatakan manusia bukan robot. tapi buktinya kerja harus ngejar target. karena kelelahan bekerja dan keterbatasan waktu serta stress yang aku derita, akhirnya kekuatana bacaku menurun. aku lebih senang berpetualang dikala libur, dan ada rasa kekwatiran akan matinya ilmu kalau tidak diajarkan dan diamalkan. setelah habis kontrak kerjaku di Sanyo, aku membuat strategi baru. menjadi pengusaha sukses atau kembali ke Pesantren.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar